Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2021

Konsep-konsep Ideal Dalam Budaya Sulawesi

Konsep-konsep Ideal Dalam Budaya Sulawesi


Sebenarnya setiap suku bangsa mempunyai konsep ideal dalam 
kebudayaannya sesuai pandangan hidupnya. Di daerah Minahasa di 
Provinsi Sulawesi Utara; konsep mapalus adalah sangat menonjol dan 
sangat terkenal. Konsep mapalus ini diterapkan pada setiap pekerjaan 
berat apapun, di mana orang saling membantu untuk meringankan 
pekerjaan, seperti pekerjaan di bidang pertanian, pembuatan rumah baru 
dan lain-lain. Dalam pembuatan rumah, mereka bekerja sama untuk
penarikan kayu dari hutan. Di samping itu mereka juga bekerja sama 
dalam pembuatan perahu dan peluncurannya kelaut.
Di samping hal-hal tersebut di atas, mapalus juga dipraktekkan dalam 
menghadapi hal-hal penting, seperti kematian, perkawinan dan perayaan 
lainnya, untuk kepentingan rumah tangga dan komunitas, saling 
membantu dan kerja sama berdasarkan prinsip repositas. Suatu bantuan 
yang diberikan dalam suatu kegiatan, berupa tenaga, barang-barang 
ataupun uang, bersama dengan bentuk-bentuk penghormatan dan 
penghargaan, harus selalu disadari dan diberikan balasannya; apabila 
seseorang melalaikan hak maka ia dianggap orang yang 'tidak baik' dan 
bilamana ia pada suatu waktu mengalami suatu hal yang memerlukan 
bantuan, maka orang lain tidak akan mau atau setengah hati 
membantunya.
Sifat istimewa dari mapalus ini, karena laki-laki dan perempuan 
sama-sama bergerak dalam pelaksanaan sesuatu pekerjaan mapalus 
dalam mendirikan rumah baru, misalnya mulai dari penebangan kayu 
sampai kepada mendirikan rumah, selalu dalam keadaan harmonis dan 
gembira dengan ciri khas Minahasa . Demikian juga mapalus dalam 
pertanian, seperti penanaman padi sampai kepada menuai hasilnya selalu 
dalam keadaan harmonis dan gembira. Masyakarat Minahasa memang 
terkenal periang dan gembira. Kegembiraannya selalu diiringi dengan 
nyanyian dan tari. Tari, nyanyi dan makan minum menjadi sifat istimewa 
ketika mapalus dilaksanakan.
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa kesadaran akan kesatuan 
tempat asal seperti sekarang, sekampung, sekecamatan melahirkan 
berbagai bentuk perkumpulan sosial baik di Manado maupun di kota-kota lain di luar Minahasa.
 Banyak dari organisasi sosial yang seasal ini juga bersifat keagamaan, atau perkumpulan arisan atau kumpulan uang (Kalangie dalam Koentjaraningrat).

Ketaatan orang Gorontalo untuk mematuhi peraturan yang cukup 
besar dan budi pekerti mereka yang baik. Pembunuhan dan penganiayaan 
sampai mati, jarang sekali terjadi begitu pula pencurian. Keselamatan 
orang dan harta benda dapat dinikmati dengan rasa puas. Perkakas rumah 
dan hasil tanaman dapat dihampiri oleh siapapun, termasuk hewan 
seperti: kuda berjalan bebas di daratan. Orang jarang atau tidak pernah
mendengar bahwa ada sesuatu yang dicuri, lagipula dalam tahun-tahun 
terakhir tidak ada perkara yang dimajukan di kalangan Mahkamah 
Kerajaan yang mengadili kejahatan besar.
Dalam kehidupan orang Kaili di Sulawesi Tengah. tergambar pada 
kebudayaan kemasyarakatan kekeluargaan yang terjalin dalam peristiwa-peristiwa perkawinan atau pilihan jodoh. 
Perkawinan yang membentuk keluarga batih menjadi peristiwa kehidupan yang dipandang salah satu yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan sebagai To-Kaili. 

Peristiwa ini dipandang penting, karena berbagai hal dalam kehidupan 
ikut ditentukan. Perasaan harga diri, martabat pribadi, keluarga dan 
kelompok kaum ikut dipertaruhkan dalam penyelenggaraan perkawinan 
itu. Selain dari itu, penampilan status dan kedudukan seseorang dalam 
masyarakat juga turut ditampilkan. Acara perkawinan itu sering kali 
mewujudkan luapan perasaan dalam persekutuan, sebagai bukti 
pentingnya perjodohan dalam kehidupan pribadi dan kehidupan 
kelompok perkauman. Keberhasilan seseorang melaksanakan perjodohan 
mewarnai kehidupan pribadinya sesuai dengan pola-pola yang terdapat 
dalam kebudayaan persekutuan itu.
Selanjutnya sejumlah ungkapan dalam bahasa Kaili memperlihatkan 
begitu pentingnya masalah perkawinan itu dalam kehidupan orang Kaili. 
Di antara ungkapan-ungkapan itu adalah : 
(I) Mombali Tanda Tuvu, berarti perkawinan itu memberi bukti tentang 
hidup. Maksudnya perkawinan itu menghasilkan keturunan sebagai 
bukti bahwa seseorang pemah hidup di dunia ini. 
(2) Mompakalue Posalara, berarti perkawinan itu memperluasjartngan 
kekeluargaan. 
(3) Mompakabasaka Rante Ri Tambolo, artinya perkawinan itu 
melepaskan rantai yang melilit leher orang tua,jadi arti perkawinan 
menunjukkan seseorang atau sepasang suami istri pemah hidup di 
dunia yang dibuktikan dengan adanya keturunan. Keturunan ini 
sebagai pelanjut tradisi kehidupan keluarga dan mengembangkan 
jaringan kekerabatan82• 
Sebagaim"ana diketahui bahwa orang Toraja mendiami daerah 
Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan, orang 
Toraja bertempat tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Luwu,

Kabupaten Polewali-Mamasa dan Kabupaten Mamaju. Kerukunan dalam 
kekeluargaan masyarakat Toraja masih sangat kuat. Hal ini kita dapat 
lihat dalam upacara pendirian atau perbaikan Tongkonan mereka serta 
upacara kematian. Persatuan dalam kekerabatan orang Toraja masih 
sangat kuat. Orang-orang yang seketurunan bersatu di tongkonan mereka, 
terutama dapat dilihat pada upacara rambu tuka (sukacita) dan upcara 
rambu solo' (dukacita). Jadi pada masa hidupnya orang Toraja bersatu 
padaTongkonan dan ketika merekameninggal dunia, merekajuga tetap 
bersatu di Liang (kuburan adat keluarga) yang biasa disebut Tongkonan 
Tongmerambu atau Tongkonan Tak berasap83 . Konsep persatuan dan 
gotong royong merupakan konsep ideal yang masih dipertahankan 
dengan kuat dalam masyarakt orang Toraja sampai dewasa ini. 
Selanjutnya konsep budaya ideal berupa sirik terdapat pada suku 
bangsa Bugis, Makassar dan mandar. Konsep budaya sirik ini 
memberikan dampak aplikatifterhadap segenap tingkah.laku nyata bagi 
segenap pemangku budayasiriktersebut. Tingkah laku ini dapat diamati 
sebagai perwujudan kebudayaan dan konsep sirik ini merupakan inti 
kebudayaan orang Bugis, Makassar dan Mandar. Sebagai inti kebudayaan 
ia mengandung lima anasir (I) ade', (2) bicara, (3) warik, (4) q1ppang, 
dan (5) sarak. Kelima anasir ini disebut pangngadereng (Bugis) dan 
Pangngadakkang (Makassar) dan itulah yang menjadi sumber sekalian 
tingkah laku dalam membangun seluruh aspek kebudayaan rohaniah dan 
kebudayaan fisik.

Lebih jauh sirik merupakan sumber motivasi yang mendorong 
seseorang anggota masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar untuk pada 
suatu saat dalam hidupnya berbuat sesuatu yang sangat nekad dengan 
memilih mengorbankan milik hidupnya yang terakhir, yaitu "nyawa", 
yang kerapkali dikembalikan kepada konsep budaya sirik. la rela 
mengorbankan aoa saja demi tegaknya sirik. lni merupakan satu 
kesadaran tentang nilai "martabat" yang didukung o'leh setiap orang 
dalam tradisi kehidupan orang Bugis, Makassar dan Mandar. la juga 
merupakan kesadaran kolektifyang sangat peka dan dibebankan kepada 
setiap orang anggota persekutuan hidup untuk membangunnya, 
mempertahankannyam dan menegakkannya.

Dalam naskah (Lontaraq) Bugis-Makassar terdapat berbagai 
ungkapan yang menunjukkan bahwa sirik bukan semata-mata berpangkal
pada peluapan emosi. Pada persekutuan hidup, desa, wanua, ataupun 
tana, terdapat orang pertama tempat sirik itu harus dipelihara, 
dikembangkan dan dibela. Tiap-tiap anggota persekutuan yang 
dipimpinnya, merasa dirinya bersatu dengan pimpinannya, karena sirik 
yang dimiliki bersama. Antara pemimpin dan yang dipimpin terlihat oleh 
satu kesatuan martabat diri yang menimbulkan sikap pesse (Bugis) atau 
pacce (Makassar) yang dapat dinamakan solidaritas yang kuat.

Selain sirik sebagai sumber motivasi, sirik juga merupakan etos 
kebudayaan yang berperan sebagai dinamisator dalam hidup sautu 
kebudayaan . Setiap kebudayaan ada intinya yang memberi warna kepada 
tata kehidupan dalam persekutuan hidup kemasyarakatan. Dalam pengertian ini, sirik mengandung nilai-nilai universal. Sirik dimiliki oleh semua umat manusia yang membina kebudayaannya sepanjang sejarah kemanusiaan dan dengan penamaannya masing-masing. Akan tetapi 
aksentuasi pernyataan-pernyataan berbeda-beda pada setiap kebudayaan, 
ruang dan waktu.

Menurut Mattulada, sirik pada orang Bugis-Makassar, kalau itu benar 
masih potensial untuk dapat menemukan reorientasi dan transformasi 
ke dalam interpretasi yang dapat melengkapi etos kebudayaan nasional 
Pancasila, serta segenap unsur-unsurnya merupakan darah daging pribadi 
sirik, maka sirik itu niscaya dapat menjadi daya dorong yang sangat besar bagi umat manusia.

Tanaman Herbal Indonesia Dokter terkejut melihat hasil nya, racun dalam tubuh seperti : Rematik Kolesterol Asam Urat Semua sembuh total deng...